Jumat, 07 Agustus 2009

Potret Pebelajar Longlife 2

Puisi Terakhir si Burung Merak : WS. Rendra

WS Rendra dengan nama lengkapnya Willibrodus Surendra Broto Rendra kelahiran Solo, 7 November 1935; meninggal dunia Kamis malam; dan dimakamkan pada hari Jumat 7 Agustus 2009 di pemakaman keluarga WS Rendra tepatnya di Bengkel Seni Teater Cipayung. Depok. Berjarak sekitar 20 meter dari makam mbah Surip yang meninggal 2 hari yang lalu. Tempat pemakaman keluarga tersebut memang dikhususkan siapa saja asal mendapat persetujuan keluarga.

Sekali lagi bangsa Indonesia kehilangan seniman dan budayawan terbaik bangsa ini. Pengharum bangsa di mata dunia dengan karya-karyanya yang menembus batasan wilayah dan zaman. Sosok WS Rendra dikenal sebagai budayawan yang kritis; dan berkarya dengan membela kaum lemah yang sering terpinggirkan yaitu kaum kecil; kaum marginal dan kaum papa dan siapa saja korban ketidak adilan. Pandangan-pandangannya tajam dan kritis; terutama mengenai budaya; dan semua itu juga tertuang dalam berbagai puisinya dan drama-dramanya. Kumpulan puisi berjudul @ Balada Orang-orang Tercinta” pernah mendapat penghargaan Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) tahun 1957. Dirinya juga mendapat seni dari pemerintah Yugoslavia.

Dalam pidato pengukuhannya gelar Doctor Honoris Causa di UGM 28 Maret 2008 WS Rendra memberikan pandangan budayanya dengan judul : Megatruh Kambuh ; Renungan Seorang Penyair dalam Menggapai Kalabendu.
Menurut Syafii Maarif pidato tersebut dapat dijadikan pedoman untuk pembangunan dan pembenahan bangsa ke depan.WS Rendra dianggap dapat membaca tanda-tanda zaman.
WS Rendra yang mempunyai perjalanan rohani dari Katolik yang dijalaninya dengan tekun; beralih menjadi sorang muslim juga dilalui dengan penuh penghayatan. Dan sekali lagi beliau juga selalu berjuang dan bejuang demi keadilan; belajar dan belajar bersama kehidupan ini.

Namun akhirnya yang perlu dicatat; bahwa perjuangan dan pembelajaran itu akan menuju kepada satu yakni kembali menghadap sang khalig. Perjuangan hidup memang harus diikhtiarkan pada satu keyakinan; bahwa ada sesauatu yang akan ditujunya. Baik para pendusta; pengingkar; maupun yang senantiasa rindu kebenaran……semua akan menuju satu arah pasti …… kembali menghadap sang Pencipta.
Demikian pula WS Rendra; dengan segala kelemahannya, sebagai makhlukNYa; maka Ingat kepada Tuhan adalah jalan terbaik selagi kita sadar. Di tengah kesakitan; di rumah sakit Mitra Keluarga WS Rendra sempat membuat puisi terakhirnya….ya puisi terakhirnya karena ditulis menjelang ajal tiba; dalam keadaan lemah. dan karenanya puisi itu pun belum sempat diberi judul. Namun apa yang bisa kita tangkap dari isi puisi tersebut.
Di bagian akhirlah ternyata lebih pantas sebagai judul itu. Dan itu sepertinya sebuah konklusi hidup dari WS Rendra;

Selamat jalan bang Willy, si Burung Merak yang terbang kembali ke sarangnya. Semoga Allah menempatkannya ditempat orang-orang yang terpuji; pembela rakyat kecil; dan kaum tertindas.Amin

Inilah lirik puisi itu:

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu

(ditulis dari Timika Papua: Jumat, 7 Agustus 2009 )

3 komentar:

  1. turut berduka cita ..salah satu seniman terbaik bangsa ini telah tiada

    BalasHapus
  2. ada kabar terakhir ttg almarhum mas willy(rendra) katanya nama "rendra" akan dimasukan dalam kamus bhs Indonesia, artinya "manusia yg penuh dengan keyakinan"

    BalasHapus
  3. Mudah-mudahan itu betul dan mempunyai makna yang inspiratif. Saya setuju dengan makna "manusia yang penuh dengan keyakinan" kalau dilihat dari konsistensi perjuangan menegakkan keadilan dan membela kaum yang lemah dan terdzolimi....juga keyakinannya bertemu dengan Yang Maha Pencipta.

    BalasHapus